Deteksi Bencana Sosial Sejak Dini....
Tiada Hari Tampa Pengabdian

MOTIVATOR DAN PEMETAAN SOSIAL DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

13-Oct-2008
MODUL

MOTIVATOR
DAN
PEMETAAN SOSIAL
DALAM
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT


Drs. Afrinaldi MSi


MODUL 1
PEMETAAN SOSIAL

Oleh : Drs. Afrinaldi, MSi.

LATAR BELAKANG

• Permasalahan sosial yang selayaknya ditangani melalui Program Pemberdayaan Masyarakat selalu berkembang secara dinamis, sehingga sumber-sumber yang tersedia di lingkungan harus didayagunakan dan didistribusikan secara efesien, efektif dan berkelanjutan.

• Pemetaan sosial merupakan salah satu cara untuk memperoleh informasi secara akurat, lengkap dan mempertimbangkan perspektif masyarakat

• Informasi yang dibutuhkan bagi para Motivator Program Pemberdayaan Masyarakat, yaitu bobot masalah sosial, sebaran masalah, potensi sosial yang dapat didayagunakan dalam Program Pemberdayaan Masyarakat.

• Keterbatasan informasi tersebut, akan sulit memberikan jaminan ketepatan sasaran dan alokasi program Pemberdayaan Masyarakat.

• Analisis prioritas dalam perencanaan program Pemberdayaan Masyarakat, merupakan salah satu tahapan penting dalam proses pemberdayaan masyarakat.

• Untuk itu diperlukan metode yang mampu memberikan informasi bagi perencanaan dan pengelolaan program. Masalah efisiensi dan efektivitas program harus diperhitungkan sejak tahap perencanaan program.

JENIS PETA
• Peta dasar : bagan suatu daerah yg menjadi dasar pembuatan peta lainnya
• Peta topografi : peta berskala kecil yg menunjukkan bentuk dan ukuran yang tepat
• Peta bumi : tanah, pegunungan, sungai
• Peta bahasa : peta daerah penggunaan bahasa
• Peta cuaca : keadaan unsur meteorologi
• Peta sosial : peta yang berkenaan dengan masyarakat
PEMETAAN SOSIAL

• PROSES, CARA, PERBUATAN, MEMBUAT PETA YANG BERKENAAN DENGAN MASYARAKAT YANG MERUPAKAN KESATUAN SOSIAL DENGAN KEHIDUPAN MASYARAKAT DI LINGKUNGAN

TUJUAN PEMETAAN SOSIAL

Tujuan umum :
Diperolehnya program prioritas dan alokasi sumber pembangunan sosial secara efisien, efektif dan berkelanjutan.

Tujuan khusus :
• Tersusunnya indikator bobot masalah dan potensi soial dan aksesibilitas fasilitas pelayanan sosial dan pelayanan publik lainnya.
• Diperolehnya peta sosial sebagai dasar pengembangan informasi
• Diperolehnya peta-peta tematik dari hasil Participatory Research Appraisal (PRA)
• Tersusunnya prioritas rencana program berdasarkan jenis masalah dan satuan wilayah sasaran program sehingga dapat ditentukannya alokasi program Pemberdayaan Masyarakat prioritas yang memperhitungkan aspek efisiensi, efektivitas dan kelangsungan program yang telah didiskusikan dengan masyarakat/ kelompok sasaran.

KEGUNAAN PRAKTIS

Pemetaan masalah sosial dan potensi/sumber sosial bagian dari analisis situasi dan analisis kebutuhan. Data yang disajikan dalam struktur ruang /daerah sehingga lebih komunikatif, sehingga dapat digunakan sebagai bahan untuk analisis prioritas masalah dan lokasi untuk perencanaan

PERSPEKTIF DASAR
Komponen masyarakat :
- Individu
- Keluarga
- Komunitas
- Masyarakat sipil
- Institusi negara
Dimensi-dimensi masyarakat
- Struktur sosial
- Relasi sosial
- Proses sosial
- Nilai sosial

KEMAJUAN SOSIAL

Untuk memperoleh informasi tentang kemajuan sosial, sangat tergantung pada ketersediaaan indikator sosial.

Definisi indikator sosial :
definisi operasional atau bagian dari definisi operasional dari suatu konsep utama yang memberikan gambaran sistem informasi tentang suatu sistem sosial (Carlisle’s, 1972 :25).

ASUMSI
 Ada hubungan antara kondisi spasial (tata ruang) dengan fungsi-fungsi yang berlaku pada masyarakat
 Kondisi spasial merupakan fakta sosial yang dapat menggambarkan pola-pola, keteraturan, perubahan, dinamika sosial
 Pemetaan sosial merupakan cara untuk mengkaji “Social Inquiry”


METODOLOGI

Social inquiry :
 Naturalistic inquiry (kualitatif) – etnografis/ cultural mapping
 Positivistic (kuantitatif) – GIS dengan indikator objektif
 Kombinasi naturalistic inquiry dan positivistic – PRA

METODE PEMETAAN

 Survey research (ex: RAP & statistik indikator sosial)
 Partisipatory research (ex : PRA)
 Indigenous reseach (ex : Verstehen - etnografis)Triangulation research

LANGKAH STRATEGIS

 Membuat batasan wilayah, klasifikasi atau stratifikasi untuk memahami keseluruhan situasi, dan posisi relatif dalam konteks yang lebih luas
 Membuat profil dari setiap wilayah dan kelompok sosial untuk menjelaskan karakteristik dari populasi dan identifikasi faktor sosial ekonomi yang dapat mempengaruhi perkembangan fungsi sosial masyarakat
 Identifikasi masalah, potensi, dan indikator dasar yang memberikan gambaran tentang bobot masalah dan strategi alokasi sumber pada setiap wilayah atau kelompok

LANGKAH OPERASIONAL

 Penyusunan disain dan instrumen/ skenario
 Pengumpulan data base masalah sosial dan sumber-sumber sosial sosial
 Penyusunan indikator bobot masalah dan jangkauan fasilitas pelayanan sosial.
 Digitasi peta dasar
 Pembuatan peta tematik dengan PRA dan Sistem Informasi Geografis (Geographycal Information System)
 Analisis prioritas berdasarkan jenis masalah dan satuan wilayah pembangunan
 Penentuan alokasi program prioritas
 Diseminasi hasil


PENGEMBANGAN
INDIKATOR SOSIAL DALAM KONTEKS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

KRITERIA PENGEMBANGAN INDIKATOR SOSIAL

 Tidak mengasumsikan hanya ada satu pola pembangunan atau berlaku universal untuk semua wilayah pembangunan,
 Mengukur hasil disamping dapat digunakan untuk mengetahui masukan dan proses.
 Menggambarkan tingkatan, rates, pola dan sebaran yang mudah dipahami,
 Sederhana cara menyusunnya serta metodenya mudah dipahami,
 Dapat digunakan untuk menentukan skala prioritas masalah dan skala prioritas lokasi/ wilayah pembangunan,
 Data yang diperlukan sudah tersedia.

DIMENSI INDIKATOR SOSIAL

 Terkendalinya permasalahan sosial, dilihat dari dua dimensi yaitu:
- bobot masalah
- kecenderungan masalah dari waktu ke waktu.

 Terpenuhinya kebutuhan sosial dilihat dari dimensi :
- cakupan/ aksesibilitas/ jangkauan pelayanan, baik pelayanan pemerintah maupun Pemberdayaan Masyarakat lingkungan atau masyarakat

 Terbukanya peluang sosial yang dilihat dari dimensi :
- potensi dan sumber sosial yang meliputi
 tenaga
 dana,
- peran aktif masyarakat.

INDIKATOR INTI
 bobot masalah sosial ;
 kecenderungan masalah sosial ;
 cakupan pelayanan;
 potensi & sumber sosial ;
 peran aktif masyarakat.

1. Bobot Masalah merupakan besaran masalah dilihat dari populasi masalah sosial dan kadar masalahnya.
Dengan mengetahui bobot masalah maka dapat ditentukan skala prioritas masalah sosial yang akan ditangani dan skala prioritas wilayah program Pemberdayaan Masyarakat.
Contoh:
Proporsi penduduk miskin berdasarkan populasi keluarga di lingkungan

2. Kecenderungan masalahmerupakan laju perkembangan masalah kesejahteraan sosial dalam kurun waktu tertentu, baik yang sifatnya menurun maupun meningkat.
Kecenderungan ini diperlukan untuk memprediksi perkembangan permasalahan yang ada dan kebutuhan penanganan.
Contoh :
Laju perkembangan proporsi penduduk miskin dengan penduduk umur yang sama

3. Cakupan pelayananmerupakan kemampuan atau daya jangkau perangkat pembangunan sosial dalam penanganan masalah kesejahteraan sosial.
Luasnya cakupan akan mewarnai dasar penentuan target penanganan yang tercemin pada hasil yang dicapai dari waktu ke waktu.
Contoh:
- Proporsi penduduk miskin yang akses terhadap program Pemberdayaan Masyarakat dibandingkan dengan populasi penduduk miskin
- Proporsi penduduk miskin yang akses terhadap program penanganan kemiskinan dari pemerintah kota dibandingkan dengan populasi penduduk miskin
- Ratio penduduk miskin yang akses terhadap program Pemberdayaan Masyarakat

4. Potensi dan sumber merupakan fasilitas yang secara potensial dikendalikan dalam berbagai bentuk pelayanan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan.
Fasilitas sebagai sumber sosial mencakup pelaksana, dana, dan keberadaan institusi sosial.
Potensi dan sumber menentukan luasnya jangkauan pelayanan dalam penanganan masalah sosial.
Contoh:
- Kualitas dan kapasitas tenaga
1) Ratio tenaga/petugas Pemberdayaan Masyarakat dengan sasaran komunitas yang dilayani
2) Ratio supervisor dengan motivator Pemberdayaan Masyarakat
3) Indeks pendidikan motivator Pemberdayaan Masyarakat
4) Indeks pendidikan Supervisor
- Ketersediaan dana
1) Persentase Anggaran Pemberdayaan Masyarakat dengan APBD
2) Ratio Anggaran Pemberdayaan Masyarakat dengan Anggaran Sektor Fisik
3) Persentase Anggaran Pemberdayaan Masyarakat dengan Anggaran yang diusulkan masyarakat

5. Peran aktif masyarakat diberikan kesempatan yang lebih besar dalam penanganan masalah sosial di lingkungannya.
Dalam hal ini aparat lingkungan selayaknya lebih memberat pada fungsinya sebagai fasilitator dan motivator Pemberdayaan Masyarakat.
Dimensi ini dipilih, mengingat Pemberdayaan Masyarakat harus diarahkan kepada kemandirian dan ketahanan sosial berbasis komunitas.
Contoh:
- Persentase sumber daya swadaya masyarakat dengan sumber dari lingkungan
- Ratio relawan sosial dengan sasaran Pemberdayaan Masyarakat

MODUL 3
PEMETAAN MASALAH,
POTENSI DAN SUMBER-SUMBER SOSIAL DENGAN METODA PRA

Pemetaan masalah, potensi, dan sumber sumber sosial merupakan langkah awal bagi para aktivis atau motivator pembangunan masyarakat. Hal yang membedakan dengan kegiatan pembangunan masyarakat secara konvensional di antaranya sebagai berikut.

 Orientasi terhadap masalah kemasyarakatan selalu diikuti dengan pemahaman tentang potensi dan sumber lokal yang tersedia di masyarakat.
 Masyarakat harus terlibat dalam setiap kegiatan pemetaan.
 Motivator berperan sebagai fasilitator, sehingga masyarakat yang mengidentifikasi, membuat, mendiskusikan, menganalisa dan menyimpulkan.
 Peran fasilitator dapat dilakukan jika menggunakan media dan peralatan sederhana yang dapat dipahami oleh masyarakat. Gambar, diagram dan tabel yang sederhana merupakan alternatif peralatan pemetaan. Media tidak selalu harus di atas kertas dengan alat tulis spidol atau pinsil, dapat juga di atas hamparan tanah dan menggunakan simbol simbol yang ada di sekitarnya (misalnya: ranting pohon, daun daunan, buah-¬buahan, dan batu).
 Selama kegiatan pemetaan dilakukan maka hasil akhir bukan sebagai tujuan, tetapi lebih dipentingkan proses kebersamaan dan partisipasi masyarakat. Biarkanlah masyarakat yang menilai hasil akhir pekerjaan mereka.
 Tidak ada aturan yang baku atau paham fleksibilitas dalam situasi, kondisi, dan waktu yang merupakan bagian dari proses bekerja sama dengan masyarakat.

Teknik teknik PRA untuk pemetaan masalah, potensi dan sumber yang dapat digunakan dan saling berkaitan satu sama lain, diuraikan sebagai berikut.


URAIAN DATA SEKUNDER:
ANALISIS DATABASE DAN PROFIL MASYARAKAT

Kegiatan studi dokumentasi hampir selalu digunakan oleh para motivator pembangunan sebelum atau selama melakukan program.

Jika sudah menemukan sumber data dalam bentuk dokumen, biasanya motivator minta untuk fotokopinya dan selanjutnya dipelajari dan dianalisis sendiri.

Dalam konteks pendekatan partisipatif, data yang diperoleh dari kegiatan studi dokumentasi harus dipelajari dan didiskusikan bersama-sama masyarakat. Inilah yang disebut dengan teknik Uraian Data Sekunder.

Tujuan uraian data sekunder yaitu untuk memperoleh informasi awal mengenai
 sosio demografis,
 sosio ekonomi, dan
 sosio budaya masyarakat.
Sumber data utama adalah monografi lingkungan dan atau data lain yang tersedia di lingkungan

Hasil yang diharapkan meliputi
 kondisi kondisi yang menyebabkan terjadinya permasalahan sosial,
 tingkat kebutuhan dasar, dan
 kuantitas & kualitas potensi sosial.

Berdasarkan analisa data maka akan diketahui
 permasalahan sosial yang menonjol,
 permasalahan sosial yang harus segera ditangani, dan
 potensi & sumber sosial yang dapat dimanfaatkan.


Latihan:

1. Setiap kelompok melakukan simulasi untuk menyusun perencanaan pembangunan industri lingkungan. Tentukan peran¬-peran yang akan ditampilkan, misalnya motivator, mahasiswa yang KKN, aparat lingkungan, PMD, dan anggota masyarakat yangsesuai (jasa, pedagang, industri kecil, dll).
2. Diskusikan dan susunlah profil lingkungan berdasarkan indikator-¬indikator yang disepakati bersama.


PENGORGANISASIAN MASALAH _____________________________

Pengorganisasian masalah, pada dasarnya ditujukan untuk menyusun kembali masalah, menyeleksi, melihat hubungan sebab¬-akibat, mendiskusikan prioritas, dan menggali serta menganalisis alternatif pemecahan masalah dalam pengembangan potensi sosial.

Adapun hasil yang diharapkan dalam pengorganisasian masalah adalah mendapatkan informasi tentang :
 hasil analisis masalah,
 identifikasi sebab akibat,
 penetapan prioritas, dan proses sosialisasi pengetahuan baru kepada masyarakat dalam pengorganisasian masyarakat.

Pengorganisasian masalah merupakan tahapan kritis dalam proses pembangunan masyarakat. Sering terjadi kesalahan dalam menganalisis masalah, yang mengakibatkan kebutuhan kebutuhan riil masyarakat tidak diketahui.

Di lain pihak, proses analisis masalah merupakan proses yang dilakukan sepenuhnya oleh motivator pembangunan, dengan anggapan masyarakat kurang mengerti, serta motivator merasa paling tahu 'teori' yang digunakan untuk menjelaskan masalah yang ditemukan di masyarakat.

Perubahan cara berpikir dalam menganalisis masalah ditentukan oleh peran dari motivator pembangunan yang lebih memposisikan dirinya sebagai mitra kolaboratif daripada menonjolkan peran sebagai ahli sosial.

Peran motivator terbatas dalam memfasilitasi proses proses dialog, diskusi, curah pendapat, menstrukturkan masalah, menemukan prioritas dan mensosialisasikan temuan kelompok masyarakat pada masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian, jadikan forum pengorganisasian masalah sebagai forum masyarakat itu sendiri.

Seringkali hasil pengorganisasian masalah dilihat dari sisi logika mungkin tidak seusai dengan 'teori' yang motivator ketahui dan gambaran hasil analisis sebagai akibat mungkin terlihat rumit.

Namun demikian itulah pikiran masyarakat, jangan sekali kali menggurui masyarakat selama proses diskusi berlangsung atau menyalahkan hasil diskusi. Apapun hasilnya, haruslah dihargai sebagai karya masyarakat dan itulah yang dipahami oleh masyarakat tentang dunianya mereka sendiri.


Latihan :

1. Berdasarkan hasil profil masyarakat, buatlah analisis permasalahan, potensi, dan kebutuhan masyarakat dalam bidang industri pelingkunganan.
2. Gunakan teknik diskusi kelompok terarah yang dikombinasikan dengan curah pendapat.
3. Gunakan bagan alur organisasi masalah atau pohon masalah untuk mereduksi hasil diskusi.
4. Buatlah prioritas unggulan dengan menentukan kriteria prioritas bersama sama.
5. Refleksi diarahkan pada proses menemukenali masalah secara bersama sama.


OBSERVASI LANGSUNG
TERHADAP POLA KEHIDUPAN MASYARAKAT_____________

Observasi langsung merupakan metode perolehan informasi yang mengandalkan pengamatan langsung di lapangan, baik yang menyangkut obyek, kejadian, proses, hubungan maupun kondisi masyarakat dan lingkungan alam yang berkaitan dengan proses dialog, penemuan dan Pemberdayaan Masyarakat. Informasi yang diperoleh ini dicatat dalam bentuk catatan atau gambar. Fotografi juga dapat digunakan untuk mereduksi data secara efektif dan cepat dari teknik observasi langsung.

Arah atau petunjuk observasi akan efektif bila berdasar pada hasil pemetaan masalah dan potensi lingkungan. Selama perjalanan observasi, galilah informasi sebanyak mungkin dan berikan kesempatan kepada informan untuk menjelaskan situasi dan konsisi lapangan yang dilihat. Berikut ini adalah hal hal yang harus diperhatikan dalam melakukan observasi.

 Observasi dilakukan bersama sama masyarakat, dengan cara mengunjungi lokasi lokasi yang potensial memberikan informasi penting bagi pembangunan masyarakat.
 Motivator janganlah bersikap seperti pejabat yang melakukan inspeksi atau seperti pengawas bangunan, karena hasil observasi bukan untuk kepentingan motivator tetapi selalu untuk kepentingan masyarakat itu sendiri.
 Pencatatan dan foto dokumentasi tidak harus dilakukan oleh motivator pembangunan, namun berikan kesempatan kepada masyarakat untuk melengkapi informasi yang mereka butuhkan.
 Ciptakan suasana santai selama dalam perjalanan observasi (anggap saja sebagai kegiatan rekreasi atau jalan jalan biasa bersama masyarakat).



Latihan:

1. Peserta diharuskan berpasang pasangan dan bagi ke dalam tiga kelompok besar dengan formasi 2, 3 dan 5 orang.
2. Setiap pasangan melakukan pengamatan/observasi di luar ruangan selama 5 menit. Tugasnya, observasi semua komponen lingkungan yang ada di luar ruangan, termasuk manusia dengan segala tingkah lakunya.
3. Kelompok besar pertama (anggota 2 orang), tidak diperkenankan setiap anggota dalam pasangannya masing¬masing saling berkomunikasi selama melakukan observasi.
4. Kelompok besar kedua (anggota 3 orang), diperkenankan melakukan komunikasi satu sama lain selama melakukan obseruasi, namun masing masing mempunyai pencatatan sendiri.
5. Kelompok besar ketiga (anggota 5 orang) diharuskan melakukan observasi bersama dan harus saling berkomunikasi satu sama lain serta hasil pencatatan merupakan hasil rumusan bersama.
6 Setelah selesai, setiap kelompok menyajikan hasil observasi sekaligus mendiskusikannya tentang prores observasi tersebut, yaitu proses komunikasi, proses pencatatan, proses penarikan kesimpulan.
7. Refleksi diarahkan kepada cara padang berdua, bertiga dan berlima terhadap satu objek pengamatan. Kelompok manakah yang menghasilkan observasi yang dapat diandalkan keakuratannya?



PEMETAAN PRASARANA, GEDUNG, RUANGAN, SUMBER DAYA, DAN LOKASI PEMBANGUNAN


Peta dibuat dengan gambar, simbol, dan sketsa yang sederhana. Pembuatan peta dimulai dengan satu objek yang dikenal semua anggota masyarakat yang terlibat (misalnya, pada potensi sosial). Selanjutnya dibuat juga gambar gambar yang lebih spesifik, untuk setiap jenis potensi sosial.

Kajian tentang potensi ini dihubungkan dengan temuan permasalahan atau kebutuhan masyarakat. Biasanya akan lebih mudah dimengerti oleh masyarakat jika dihubungkan dengan permasalahan akses masyarakat terhadap fasilitas pendidikan, kesehatan, pasar, kantor lingkungan, lapangan olah raga, dan balai lingkungan. Permasalahan dengan sendirinya akan muncul, misalnya, masalah transportasi, masalah jarak yang terlampau jauh, masalah waktu untuk mengakses suatu fasilitas, dan masalah tidak tersedianya tenaga yang cukup.

Untuk memberikan gambaran secara lebih komprehensif, dapat dilanjutkan dengan membuat matrik transek, yang akan memberikan informasi tentang profil potensi. Kriteria dan profil ditentukan bersama lama masyarakat.

Dalam proses diskusi, seringkali gambar potensi lingkungan tidak cukup memberikan informasi yang memadai, kadangkala dibutuhkan peta potensi kecamatan, bahkan sampai kabupaten. Demikian juga sebaliknya seringkali dibutuhkan peta potensi yang lebih spesifik, misalnya, untuk kebutuhan pembangunan MCK umum diperlukan peta lokasi balai lingkungan dan sekitarnya.


Latihan:

1. Buat peta potensi suatu lingkungan tempat tinggal salah seorang anggota kelompok.
2. Diskusikan permasalahan aksebilitas masyarakat terhadap fasilitas pelayanan publik yang tersedia.
3. Buat matrik transek untuk lebih mendalami potensi yang dimiliki serta permasalahan yang lebih spesifik selain masalah aksebilitas.

BAGAN HUBUNGAN ANTAR PIHAK (DIAGRAM VENN)_____________

Diagram venn atau bagan hubungan antarpihak pihak yang terkait dalam kehidupan bermasyarakat, digunakan untuk mengetahui mekanisme vertikal dan horizontal antarsumber sosial yang ada di masyarakat, serta pandangan pihak lain terhadap fungsi sumber sosial. Penyajian diagram venn dilakukan dalam bentuk lingkaran. Besar kecilnya lingkaran dan jarak antarlingkungan menentukan keeratan hubungan dan penting tidaknya keberadaan suatu sumber sosial di antara pihak pihak terkait serta hubungan saling pengaruh.


Latihan:

1. Setiap peserta membuat diagram venn dari kehidupan pribadinya masing masing.
2. Setiap kelompok membuat diagram venn dari hubungan antarunsur unsur yang ada dalam masyarakat. Diagram venn dibuat dua macam. Pertama menggambarkan hubungan aktual dan bermasalah; dan kedua menggambarkan hubungan serasi atau solusinya.


PETA MOBILITAS____________________________________________

Peta mobilitas memperlihatkan lingkup gerak dengan menggam¬barkan sumber sumber sosial mana yang diakses masyarakat dalam suatu jangka waktu tertentu. Jenis garis dan warna yang berbeda yang digambarkan dari pusat sketsa ke tempat yang dikunjungi dapat memperlihatkan apakah tempat atau ruangan tertentu secara rutin digunakan masyarakat, secara berkala, atau hanya insidentil (jarang).



Latihan:

Setiap kelompok menyusun profil aksesibilitas suatu komunitas terhadap sumber sumber lokal (fasilitas pendidikan, kesehatan, pasar, dll).



PENGURUTAN KEKAYAAN

Teknik pengurutan kekayaan digunakan untuk menentukan bagaimana tingkat relatif kekayaan antara kelompok dan atau antara sumber sosial dalam suatu tatanan sosial masyarakat.


Latihan:

Setiap kelompok membuat peringkat kekayaan dua dusun ditinjau dari berbagai indikator yang disepakati bersama oleh masyarakat.



POLA PENGGUNAAN WAKTU (JADWAL SEHARI-HARI)


Analisis penggunaan waktu atau jadwal sehari hari pada masyarakat dilakukan dalam berinteraksi dengan sumber sosial. Jadwal sehari¬hari ditampilkan dalam bentuk grafik. Pola penggunaan waktu dapat berubah dari waktu ke waktu; karma itu akan diulang dalam hari hari berikutnya (minimal selama satu minggu). Informasi ini penting untuk menunjukkan hubungan antara keserasian penggunaan waktu dengan setiap langkah yang ada dalam proses Pemberdayaan Masyarakat.

Latihan:

1. Setiap kelompok menyusun jadwal sehari hari dari masyarakat peladang (pilihlah salah satu lingkungan yang pernah dikunjungi).
2. Diskusikan waktu yang tersedia untuk suatu kegiatan perencanaan pembangunan secara partisipatif atau kegiatan pemberdayaan masyarakat lainnya (penyusunan rencana pembangunan lingkungan di bidang pengembangan teknologi tepat guna, bimbingan sosial kelompok, musyawarah lingkungan, dll.)
3. Susunlah jadwal yang sesuai dalam satu bulan kegiatan. Setiap minggu gunakan satu waktu kosong bagi masyarakat.



PROFIL SEJARAH PROGRAM DAN PENERIMAAN MASYARAKAT


Sejarah masyarakat merupakan ringkasan ringkasan dari kejadian kejadian penting atau transisi yang terjadi di masyarakat yang sedang diteliti dalam periode waktu yang panjang. Untuk menggambarkan kejadian penting tentang sejarah masyarakat dan perubahan ketersediaan potensi dan sumber sumber sosial yang digunakan dalam program Pemberdayaan Masyarakat.

Penulisan sejarah melibatkan tokoh tokoh masyarakat. Masyarakat difasilitasi untuk menyusun sejarahnya atau kejadian kejadian penting dari waktu ke waktu. Hal itu dapat dibuat secara tertulis maupun dalam bentuk tabel tabel. Jika diperlukan keterangan waktu dirinci tahun clan bulan; atau sampai dengan tanggal clan jam kejadian.


Latihan:


Bentuk formasi kelompok, masing masing beranggotakan tiga orang. Setiap kelompok menyusun daftar riwayat hidup salah seorang anggotanya. Kemudian dua orang anggota lainnya memerankan sebagai fasilitator. Selanjutnya, hasil diskusi dijelaskan kepada kelompok lain.

MODUL 4
PERENCANAAN PARTISIPATIF



Perencanaan partisipatif dapat dilaksanakan jika motivator pembangunan tidak berperan sebagai perencana untuk masyarakat, tetapi sebagai Motivator Pemberdayaan Masyarakat dalam proses perencanaan yang dilakukan oleh masyarakat. Beberapa keterampilan dasar yang harus dimiliki untuk merencanakan kegiatan partisipatif, antara lain melakukan diskusi kelompok terarah dan memfasilitasi analisa pola keputusan yang dilakukan masyarakat dalam proses perencanaan.


DISKUSI KELOMPOK TERARAH

Diskusi kelompok terarah digunakan untuk membahas persoalan¬persoalan yang terjadi di antara kelompok kelompok atau organisasi sosial masyarakat, kiat kiat mendayagunakan potensi sosial, dan penciptaan interaksi dengan sumber sumber sosial.

Fokus perhatian mengamati proses dialog yang dilakukan Motivator Pemberdayaan Masyarakat atau petugas sosial dengan masyarakat, adalah dalam rangka

a) persiapan untuk bekerja sama;
b) pembentukan kemitraan;
c) artikulasi tantangan;
d) identifikasi kekuatan;
e) penentuan arah kegiatan.



ANALISIS POLA KEPUTUSAN

Analisis pola keputusan adalah gambaran yang menggambarkan arus penentuan keputusan, serta dasar petimbangan yang dipakai dalam pengambilan keputusan tersebut, misalnya, keputusan cara mendayagunakan potensi sosial.

Fokus perhatian mengamati proses penemuan yang dilakukan bersama antara Motivator Pemberdayaan Masyarakat atau petugas sosial dengan masyarakat adalah dalam hal

a) eksplorasi sistem sumber;
b) analisis kapasitas sumber;
c) penyusunan frame pemecahan masalah.


Kasus l:


Peningkatan usaha ekonomi produktif bagi masyarakat Lingkungan Kecipir termasuk prioritas proyek Pemberdayaan Masyarakat, karena kondisi ekonomi masyarakat yang sebagian besar dalam taraf "sub¬sistence level", di antaranya sekitar 40% termasuk kategori miskin dan sangat miskin (prasejahtera).

Surnber penghasilan dari buruh tarsi dan nelayan hanya cukup untuk rnemenuhi kebutuhan dasar makan sehari hari, sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan biaya pendidikan don kesehatan masih sangat terbatas. Oleh karena itu. sejak 1998, Yayasan Usaha Mulya (YUM) telah berusaha rnengembangkan usaha ekonomi melalui pembinaan kelompok yang disebut Kelompok Usaha Bersama Melati dengan jumlah anggota 10 orang. Kelompok tersebut telah terbentuk dengan susunan pengurus terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota. Ketua kelompok bertanggung jawab kepada anggotanya dan secara administratif bertanggung jawab longsung kepada YUM, terutama dalam hal laporan perputaran uang untuk modal usaha.

Usaha Bersama (UB) Melati ini memiliki kegiatan yang masih terbataspada organisasi simpan pinjam, sedangkan jenis usaha yang dikelola masih bergantung dari usaha anggota masing masing yang beragam. Untuk periode I (Januari s.d. Desember 1999), setiap anggota diwajibkan menyetorkan modal awal/sendiri dan selanjutnya dengan dukungan modal dari YUM, setiap anggota dapat meminjam dengan bunga cicilan sebesar 10%.

Untuk tahun 1999 telah tersalurkan sebesar Rp.2.000.000,00 dengan modal awal dari anggota sebanyak Rp1.400.000.00. Dengan bunga sebesar 10% per bulan maka diperkirakan akan terkumpul sebesar Rp6.700.000,00 pada akhir bulan ke 12. Penghasilan kelompok tersebut akan digulirkan lagi untuk anggota kelompok lainnya.

Untuk lebih meningkatkan usaha ekonomi, kelompok UB Melati telah memperpanjangpinjaman YUM sebesarRp2.000.000,00 yang telah dimulai sejak Pebruari dan diperkirakan cicilan selesai pada Nopember 2000 (periode II) dengan peraturan yang sama.

Ditinjau dari sisi usaha pengembangan kelompok, usaha YUM patut dihargai, karena program program yang sejenis dari pemerintah relatif kurang berhasil di Lingkungan Kecipir. Program Keluarga Binaan Sosial dari Kanwil (Dinas) Sosial juga telah mengalami kegagalan, yakni pada saat diberi bantuan 25 ekor kambing yang akhirnya dijual oleh keluarga penerima bantuan tanpa ada pertang¬gungjawaban yang jelas kepada pihak penyandang dana.

Hal ini disebabkan belum terbentuk dan kurang dibinanya rasa tanggung jawab dan kebersamaan dalam pengelolaan usaha ekonomi tersebut, selain dari jenis bantuan yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat itu sendiri.

Upaya upaya dalam menumbuhkembangkan usaha ekonomi produktif masih perlu ditingkatkan, terutama dalam hal bimbingan sosial kelompok, peningkatan keterampilan masyarakat sesuai dengan potensi yang dimiliki, budaya kewirausahaan, dan pemeliharaan penghasilan (penyadaran masyarakat dalam menggunakan hasil usaha untuk kepentingan pendidikan, kesehatan dan peningkatan gizi anggota keluarga).


Kasus 2 :


1. Berdasarkan kasus di atas, buatlah analisa pola keputusan masyarakat untuk menerima proyek Pemberdayaan Masyarakat melalui peningkatan usaha ekonomi produktif.
2. Faktor faktor apakah yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan inisiasi proyek pengembangan di masyarakat?
3. Diskusikan tahapan kegiatan yang harus dilakukan motivator pembangunan dalam melakukan ekspolasi sistem sumber, analisis kapasitas sumber dan penyusunan frame pemecahan masalah (gunakan teknik diskusi kelompok terarah).



MANAJEMEN PERENCANAAN PARTISIPATIF


Manajemen perencanaan partisipatif merupakan konsekuensi logis dari implementasi pemberdayaan masyarakat. Masyarakat mem¬punyai peran utama, yaitu sebagai pengelola perencanaan mulai dari tahap identifikasi masalah dan kebutuhan, identifikasi potensi dan pendayagunaan sumber sumber lokal, hingga penyusunan dan usulan rencana serta evaluasi mekanisme perencanaan.

Motivator pembangunan memfasilitasi dalam peningkatan aksebilitas terhadap sumber sumber lokal. Oleh karena itu, motivator pembangunan harus memiliki keterampilan dalam menciptakan kemampuan kemampuan internal masyarakat, seperti

 negosiasi, yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam hal penawaran program, proyek, atau kegiatan yang diusulkan masyarakat kepada sumber sumber lokal.
 pengambilan keputusan, yaitu meningkatkan yang diusulkan masyarakat kepada sumber sumber lokal.
 pengembangan stakeholder di tingkat lokal, yaitu meningkatkan kemampuan dalam hal mengidentifikasi semua unsur masyarakat yang seharusnya memiliki peran peran yang optimal dalam pembangunan. Stakeholder ini harus diidentifikasi bersama lama masyarakat, siapa saja, peran apa dan apa dampaknya dalam pembangunan masyarakat sebagai anggota stakeholder primer. Seandainya ada unsur unsur yang seharusnya terlibat di luar komunitas lokal maka dapat dikategorikan sebagai anggota stakeholder sekunder.




Latihan:


1. Peserta terdiri atas dua kelompok. Kelompok pertama berperan sebagai kelompok masyarakat, dan kelompok kedua berperan sebagai pihak donor.
2. Kelompok masyarakat mengaiukan suatu usulan proyek dan berusaha meyakinkan proyek tersebut layak untuk didanai dan dilaksanakan. Media untuk penawaran, selain usulan proyek juga digunakan berbagai hasil kegiatan latihan sebelumnya.
3. Kelompok donor melakukan studi kelayakan usulan proyek tersebut.
4. Refleksi diarahkan kepada proses tawar menawar, keterampilan dasar masyarakat dalam bernegosiasi, manfaat media hasil latihan PRA



MODUL 5

MONITORING DAN EVALUASI
PARTISIPATIF


Perbedaan evaluasi partisipatif dengan evaluasi yang konvensional dapat dilihat pada tabel 3 berikut.

Fokus perhatian mengamati proses pengembangan yang dilaksanakan bersama antara Motivator Pemberdayaan Masyarakat atau motivator pembangunan dengan masyarakat adalah dalam hal :
 pengaktifan sumber,
 perluasan kesempatan,
 pengakuan terhadap keberhasi(an, dan
 mengintegrasikan kemajuan kemajuan yang dicapai.

Tabel 1

Perbandingan evaluasi konvensional dan partisipatif

Aspek Evaluasi
Konvensional Evaluasi paritisipatif

Siapa
Ahli dari luar
Anggota masyarakat staf proyek, fasilitaror

Apa Indikator kebersihalan, efisiensi biaya dan keluargan hasil/produk yang telah ditentukan Masyarakat mengidentifikasi sendiri indikator kebehasilan termasuk hasil/produk yang akan dicapai

Bagaimana Fokus pada “Objektivitas ilmiah”, dan jarak antara evaluator dengan partisipan, ada pola seragam, prosedur kompleks, akses terbatas pada hasil Evaluasi sendiri, metode sederhana yang diadaptasi dengan budaya lokal, terbuka, ada diskusi hasil dengan melibatkan dalam proses evaluasi.


Kapan Biasanya tergantung jadwal, kadangkala juga ada evaluasi midtrem Tergantung atas proses perkembangan masyarakat dan intensitas relatif sering.


Mengapa Pertanggungjawaban, biasanya sumatif, menentukan biaya selanjutnya Pemberdayaan masyarakat lokal untuk inisasi, mengontrol, melakukan tindakan koreksi
Sumber : Narayan, Deepa.1993. Participation Evaluation. World BankTechnical Paper Number 207. Washington, D.C.: The World Bank.

Beberapa unsur dari kegitan monitoring dan evaluasi meliputi: rancangan metode evaluasi partisipatif, teknik dan prosedur, instrumentasi, pengumpulan data, pengolahan dan analisis data, serta pelaporan. Motivator pembangunan harus memberikan kewenangan kepada masyarakat untuk melakukan kegiatan moni¬toring dan evaluasi internal.

Teknik-teknik PRA dalam Monev

BAGAN ALUR INPUT OUTPUT

Bagan alur input output dapat digunakan untuk menggambarkan dan menilai penggunaan dan interaksi antar faktor faktor yang penting dalam proses mobilisasi potensi sosial dan hasil program pemberdayaan manusia.

KALENDER MUSIM DAN PROFIL PERUBAHAN

Kalender musim dapat digunakan untuk memperlihatkan pemanfaatan waktu sepanjang tahun. Profil perubahan potensi sosial bisa dibuat untuk jangka waktu yang lebih panjang untuk menunjukkan perubahan dalam hal, perubahan pranata sosial, perkembangan sarana dan prasarana, perkembangan sumber daya manusia, perkembangan organisasi sosial (LSM), dan perkem¬bangan hasil proyek.

Gambaran perubahan ini yang didukung hasil dari bagan alur input output sangat berguna untuk menunjukkan keadaan transisi dan hubungan antara perubahan perubahan yang berbeda yang timbul di masyarakat.





Peningkatan usaha ekonomi produktif yang dilaksanakan oleh YUM, selain dari pengembangan usaha melalui usaha simpan pinjam UB Melati, jugs dilakukan kegiatan pelatihan meniahit, riaspengantin, dan pembuatan krupuk.

 Pelatihan menjahit tingkat terampil telah dilaksanakan pada 1999 selama 4 bulan dari tangga126 April s. d 26 Agustus 1999 bagi 10 orang penduduk. Kegiatan kursus ini berlangsung di SDN II Kecipir Pedukuhan Bancang. Peserta yang mengikuti kursus sampai selesai dan dinyatakan lulus sebanyak 7 orang (70%J dan di antaranya sebanyak 4 orang (40%) sudah dapat membuka usaha menjahit. YUM dalam hal ini juga menghubungkan kegiatan usaha menjahit ini dengan pembuatan seragam SD dalam proyek bantuan beasiswa.

 Kursus rias pengantin telah dilaksanakan pada 1999 selama 3 bulan dari tanggal 15 Februari s.d.15 April 1999 bagi 5 orang penduduk. Kegiatan kursus ini berlangsung di SDN ll Kecipir Pedukuhan bancang. Hasil pelatihan ini belum optimal bermanfaat bagi penduduk, karena tidak ada satu orang pun yang membuka usaha rias pengantin. Hal ini berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat Lingkungan Kecipir fang mungkin kurang sesuai dengan kebutuhan mereka dalam hal rias pengantin.

 Kursus membuat krupuk udang, krupuk jengkol dan krupuk jinten telah dilaksanakan pada tahun 1999 selama 2 minggu bagi 13 orang penduduk. Kegiatan kursus ini dilaksanakan di rumah Kepala Lingkungan Pedukuhan Blangko. Seperti halnya hasil kursus rias pengantin, maka hasil kursus membuat krupuk juga belum nampak manfaatnya bagi masyarakat, karena diduga kurang sesuai dengan potensi lingkungan itu sendiri, kecuali untuk krupuk udang yang masih memungkinkan dicari bahannya dari sekitar Lingkungan Kecipir tersebut.

Kegiatan pelatihan keterampilan tersebut, sebenamya strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Lingkungan Kecipir. Namun demikian, jenis pelatihan yang diberikan harus benar benar disesuaikan dengan potensi don sumber lokal yang tersedia. Demikian juga kondisi pasar yang tersedia don faktor dukungan dari aparat lingkungan serta aparat kecamatan dalam mengembangkan perekonomian lingkungan secara lebih luas menjadi sangat penting dalam program pengembangan usaha ekonomi produktif. Selain itu, upaya untuk mendorong tumbuhnya budaya kewirausahaan menjadi relevan dihubungkan dengan kondisi potensi don sumber daya alam yang tersedia di Lingkungan Kecipir. Usaha di bidang pengolahan pascapanen pertanian, peternakan don perikanan perlu dipertimbangkan sebagai area pengembangan usaha ekonomi produktif, termasuk pelatihan pelatihan yong diberikan.




1. Identifikasi komponen komponen yang dapat menunjukkan kondisi awal, inputs, prows, outputs, outcomes, don dampak positif don dampak negatif.
2. Diskusikan apa keunggulan don kelemahan dari monev inter¬nal don eksternal.
3. Diskusikan apa perbedaan don persamaan dari monev proyek don money perencanaan proyek.
4. Buatlah rancangan monev dari kasus tersebut yang mengandung komponen “siapa”, “apa”, “bagaimana”, “kapan”, dan “mengapa” (perhatikan tabel 3).

KEPUSTAKAAN


Bloom, M. And Fishert, J. 1982. Evaluating Practice, Guidelines for the Accountable Professional. London: Prentice Hall. Inc.

Craig, G & Mayo, M. (ed.) 1995. Community Empowerment: A Reader in Participation and Development. London: Zed Books.

Dubois and K. K. Miley. 1996. Social Work, An Empowering Pro¬fession. Boston: Allyn and Bacon.

ESCAP 1999. HRD Course for Proverty Alleviation. Bangkok: HRG Division.

Freire, P 1970. Pedagogy of the Opressed. New York: Herder and Herder.

Friedmann, John. 1992. Empowerment: The Politics of Alternative Development. Cambridge: Balcwell.

Hanna, M. G., and Robinson, B. 1994. Strategi for Community Empowerment: Direct Action and Transformative Approaches to Social Change Practice. New York: The Edwin Mellen Press.

Hikmat, Harry. 1995. Paradigma Pembangunan dan Implikasi dalam Perencanan Sosial. (tidak dipublikasikan). Jakarta: Universitas Indonesia.

Hikmat, Harry. 1999. Pembangunan Sosial yang Berpusatkan pada Rakyat: Reorientasi Paradigma Pembangunan Kesejahteraan Sosial Pascakrisis. (makalah). Bandung: Universitas Padjadjaran.

Hikmat, Harry. 2000. Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Pembangunan Berpusat pada Rakyat. (usulan penelitian). Bandung: Universitas Padjadjaran.

Hikmat, Harry. 2001. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Bandung : HUP.

Korten, D.C. 1992. Menuju Abad ke 21. Tindakan Sukarela dan Agenda Global. Pendahuluan: Kita Menghadapi Masalah. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Korten dan Carner. 1988. Kerangka Kerja Perencanaan untuk Pembangunan yang Berpusat pada Rakyat. Dalam Korten dan Sjahrir (editor). Pembangunan Berdimensi Kerakyatan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Korten. D.C., dan Sjahrir. (ed.). 1993. Pembangunan Berdimensi Kerakyatan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Pustaka Sinar Harapan.

Korten. D.C.. dan Hauss. R. led.). 1984. People Centered Development Contributions Toward Theory and Planning Frameworks. USA : Kumarian Press.

Kusnaka & Harry. 2001. Participatory Research Appraisal. Bandung : HUP

Oakley, P (et.al). 1991. Projects with People. Geneva: International Labour Office. World Bank.

Payne, Malcolm. 1986. Social Care in The Community. London: MacMillan.

Payne. Malcolm. 1991. Modern Social Work Theory: A Critical Introduction. London: MacMillan.

Poole. T .G. 1988. The Role of the Church in Black Education. The Western Journal of Balck Studies 12 (3).

Pranaka dan Vidhyandika, M. 1996. Pemberdayaan dalam Onny S.P dan A.M.W. Pranarka (ed). 1996. Pemberdayaan: Konsep, Kebijakan dan Implementasi. Jakarta: CSIS.

Rappaport. 1985. The Power of Empowerment Language. Social polity. 17.15 21.

Rappaport. J. 1987. Terms of Empowerment: Toward a Theory for Community Psychology. American Journal of Community Pasychology. Vol. 15. No.2.

Rianingsih Djohani (ed). 1996. Buku Acuan Penerapan Pra, Berbuat Bersama Berperan Setara. Kupang: Driyamedia.

Sumengen, Harry & Tumpal. 2002. Perencanaan Partisipatif. Jakarta : PT Cipruy

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

FK PSM Kota Sukabumi Team Penyusun : Bagus, Ujang, Irvan